“Resep membuat peyek ini mulanya dari bawa dari Sumatera Barat oleh keluarga ayah saya dan makin ke sini kita lihat peminatnya banyak di Medan,” katanya.
Makanan ringan berbahan tepung beras itu masih diproduksi di rumah namun untuk pemasarannya sudah sering iku berbagai pameran kuliner dan UKM.
“Kita sekarang juga buka toko di depan gang rumah, jadi siapa yang mau beli bisa langsung ke sini bahkan orang-orang pemerintah seperti dari kantor wali kota dan kantor gubernur dan lainnya sering pesan peyek sama saya,” katanya.
Untuk menjaga kualitas rasa, tingkat kerenyahan, dan originalitas produk, ia konsisten tidak menggunakan pengawet dan saat ini memiliki tiga campuran bahan baku seperti kacang belah, teri nasi, dan kacang ijo.
Bukan hanya di Kota Medan, rempeyek produksinya juga diminati masyarakat dari daerah lain dengan harga jual Rp73 ribu untuk tiap kilogram rempeyek kacang dan Rp76 ribu rempeyek teri.
“Pemesanan kita sudah cukup meluas apalagi kalau menjelang hari-hari besar seperti kemarin saat Ramadhan dan Syawal pesanan meningkat drastis,” katanya.
Rempeyek olahannya itu juga tsudah mendapatkan izin dari Dinas Kesehatan dan resmi diakui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai produk halal sehingga dijamin aman dikonsumsi.
“Kami juga mencoba mempromosikan produk dengan menggunakan media sosial dan melakukan pengemasan sedemikian rupa agar menguatkan kepercayaan konsumen,” katanya. (Ant)











