Terkuak, Motif Pengemudi Gunakan ‘Fake’ GPS

Jakarta, (Analisa). Praktik penggunaan fake GPS dan orderan fiktif sangat meresahkan Grab. Pasalnya, tidak hanya kerugian finansial dirasakan, pengalaman mitra dan penum­pang pun menjadi korban.

Kepada detikcom, Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata mengatakan tindakan para pengemudi (driver) yang curang menggunakan aplikasi fake GPS merugikan usaha jujur dan kerja keras se­bagian besar mitra pengemudi dan para pelanggannya.

Lantaran makin banyak mitra dan pelanggan yang melaporkannya, Grab pun bergerak melakukan tindakan.

"Setelah terdeteksi pada sistem Grab, kemudian ditindaklanjuti dengan penelu­suran dan pengamatan lapangan oleh tim satgas Grab dengan tim Cyber Crime Polda Sulsel. Akhirnya tujuh pengemudi Grab di Ma­kas­sar ditangkap polisi," kata Ridzki.

Dikatakannya, upaya ini tidak akan ber­henti di Makassar saja. Mereka akan melakukan hal serupa di kota-kota lain di mana layanan Grab tersedia.

"Kenyamanan dan keamanan menja­di prioritas bagi kami," ujarnya.

Kejar Insentif

Ridzki tidak menampik jika praktik meng­­antar 'tuyul' lantaran mitra driver mengejar insentif yang diberikan Grab.

Istilah 'tuyul' sendiri digunakan untuk menyebut penumpang fiktif. Teknisnya, para pengemudi yang curang meng­gunakan apli­kasi fake GPS. Jadi, seolah-olah di aplikasi ada penumpang yang diantar, pada­hal pengemudinya tidak bergerak ke mana-mana.

Sejatinya, insentif diberikan pihak Grab sebagai bentuk penghargaan kepada mitra pengemudi. Penilaiannya dilakukan ber­dasar produktivitas masing-masing mitra pengemudi yang berhasil melampaui standar yang telah ditentukan.

"Kami tentunya terus berusaha mem­berikan manfaat dan pendapatan maksimal bagi mitra pengemudi melalui jalur yang jujur dan sesuai dengan kode etik yang berlaku. Tetapi sangat disayangkan bahwa hal ini disalah­gunakan oleh segelintir orang melalui cara-cara yang tidak terpuji," jelasnya.

Grab mendapati beragam modus kecu­rangan yang dilakukan beberapa mitranya. Ada yang pembuatan order fiktif, peng­gunaan aplikasi fake GPS untuk mencurangi sistem, dan menggu­nakan aplikasi tambahan untuk tidak mengambil pemesanan tanpa mengu­rangi performa penerimaan order dari mitra tersebut.

"Berbagai kecurangan tersebut dilakukan untuk memaksimalkan pendapatan mereka tanpa harus bekerja secara jujur dan ber­dasarkan kode etik Grab seperti sebagian besar mitra pengemudi yang lain," tutur Ridzki.

"Kami memberikan insentif kepada mitra yang memang berhak, bukan pada mereka yang melakukan kecurangan. Sangat tidak adil bagi mitra pengemudi yang sudah bekerja secara jujur dan bekerja keras," imbuhnya.

Selain insentif, akibat kecurangan ini, alokasi pengemudi di daerah yang menjadi incaran para 'tuyul' akan menjadi rendah untuk pengemudi yang tidak memanfaatkan 'tuyul'. Ujung-ujungnya, ini akan merugikan pelang­gan.

"Jika pelanggan mendapatkan penge­mudi yang menggunakan 'tuyul', mereka cenderung harus menunggu lebih lama untuk kedatangan pengemudi. Sebab jarak yang tertera di aplkasi bukan jarak yang sebe­narnya. Alhasil harapan mendapat tum­pangan yang cepat dan nyaman sirna," pungkas Ridzki. (dtc)

()

Baca Juga

Rekomendasi