Dua Energi Baru Sastra Batak Toba

Oleh: Nestor Rico Tambunan

BAHASA dan sastra lokal itu sangat penting dan berharga, karena menjadi bukti keberaga­man budaya dunia. Karena itu pula lah PBB (UNESCO) mene­tapkan tanggal 21 Februari seba­gai Hari Bahasa Ibu Internasio­nal (HBII).

Sedihnya, banyak bahasa ibu dan sastra lokal di berbagai be­lahan bumi mengalami ancaman kepunahan, termasuk di Indone­sia. Rilis Badan Peng­em­bangan dan Pembinaan Baha­sa, Februari 2018 lalu, pengujian daya tahan terhadap 71 bahasa daerah di Tanah Air. Ada 11 bahasa daerah dinyatakan punah, 4 kritis, 19 ter­ancam punah dan 16 bahasa dalam kondisi rentan.

Dalam konteks itu, amat menggembirakan tahun-tahun terakhir sastra bahasa Batak jus­tru seperti mengalami geliat kebangkitan. Tahun-tahun bela­ka­ngan banyak terbit buku kum­pulan cerpen dan novel dalam bahasa Batak Toba, setelah se­kian puluh tahun mengalami kevakuman.

Buku-buku dalam bahasa Batak Toba ini ada karya penga­rang yang tinggal di Sumatera Utara (Medan). Seperti Manguji Nababan dan Tansiswo Siagian. Ada karya pengarang Batak di ran­tau seperti Saut Poltak Tambunan.

Tak kalah menggembirakan dua di antara energi baru sastra bahasa Batak itu adalah perem­puan. Mereka itu adalah Rose Lumbantoruandan Mida Sila­ban.

Tahun 2015 lalu Rose mener­bitkan kumpulan cerpen Ulos Sorpi. Hampir bersamaan,  Mida Silaban menerbitkan buku kum­pulan cerpen Manigot Sihol. Akhir 2017 lalu Rose menerbit­kan novel bahasa Batak Hita na Mardongan, sementara Mida me­luncurkan kumpulan cerpen Inong.

Kedua boru Batak ini penga­rang natural. Sebelumnya mere­ka bukan penulis. Rose Lumban­toruan adalah mantan karyawan perusahaan asing yang kemudian membantu suami berwiraswasta. Mida Silaban sehari-hari berpro­fesi sebagai notaris. Keduanya langsung mengarang dalam Ba­hasa Batak. Tak banyak penulis natural dan orisional seperti dua ito ini.

Novel Hita Na Mardongan

Tema cerita novel Hita na Mar­dongankarya Rose Lumban­toruan termasuk kagetori pop. Inti cerita, Lidia mengalami ke­bimbangan besar ketika menda­pat lamaran resmi dari Bungaran. Seorang duda beranak dua yang ditinggal mati istrinya.

Lidia suka Bungaran. Persoa­lannya, reaksi keluarga dan tang­gapan orang sekeliling. Dia se­orang perempuan cantik dan pin­tar, bergelar master dan berkarir bagus. Dia dinilai tak pantas men­jadi ibu tiri dua anak yang su­dah menginjak remaja.

Kegelisahan itu membuat Lid­ia mempercepat rencana cuti. Dia memang berjanji mengada­kan reuni dengan teman-teman­nya semasa sekolah di kampung. Kepulangan itu mengungkap kem­bali luka cinta lama. Dia mendapat kabar Parlinggoman sedang menjalani operasi jan­tung.

Parlinggoman adalah cinta masa remaja sejak masih sekolah di kampung. Mereka sama-sama berjuang di Jakarta, dengan cita-cita akan membentuk rumah tang­ga. Parlinggoman berkhia­nat. Dia tergoda Diana, anak pim­pinan kantornya. Menikah de­ngan Diana menjadi jaminan ka­rir Parlinggoman. Lidia tentu sa­ngat terluka.

Lidia penasaran dan membe­suk Parlinggoman. Parlinggo­man ternyata menderita karena ti­dak pernah dianggap berharga oleh istrinya. Bahkan istrinya itu ketahuan pernah selingkuh. Ke­gelihasan Lidia makin bertam­bah. Cinta lama mereka seperti bangkit kembali.

Semua kegelisahan itu lenyap ketika Lidia berkumpul kembali dengan teman-teman masa lalu­nya. Reuni terbatas orang-orang bersahabat (mardongan) itu ber­langsung dalam suasana seder­ha­na, namun gembira dan meng­ha­rukan. Lidia tidak menyangka, dia akan mendapat jawaban dari kebimbangan yang dia bawa dari Jakarta dan disaksikan teman-temannya.

Nilai (value) terbaik dari no­vel Hita na Mardongan ini, se­perti dalam kumpulan cerpan Ulos Sorpi. Adalah pengenalan kembali bahasa tulis Batak yang baik dan bagus. Hata Batak na pang­ket. Coba perhatikan narasi ini: Holom, jala manihit dope ari di manogot i. Simalolong ni si Lidia pe, sapot dope. Nang pe naung somal ibana sogot dungo di Jakarta, alai dipanene ibana dope simalolong na sapot i (hal. 183).

Begitulah, Rose mengalirkan alur, plot dan emosi cerita dengan bahasa tulis Batak yang bagus dan kosakata yang menarik. Plot-plot cerita Hita na Mardongan membuat kita merasa senang, sur­prise, kadang bahkan terharu.

Hal lain yang tak kalah berni­lai, novel Rose ini mengemba­likan ingatan kita pada banyak ni­lai-nilai Habatahon. Kita di­ingatkan pada banyak tradisi dan nilai-nilai kehidupan Batak da­hulu. Bagaimana hubungan na mardongan, martondong, sahuta dan banyak lagi. Menyentuh.

Kumpulan Cerpen Inong

Kumpulan cerpen Inong ka­rya Mida Silaban berisi sepuluh cerita pendek. Seperti dalam Ma­nigat Sihol. Ke-10 cerpen ini berisi cerita-cerita kehidupan orang Batak masa kini. Baik  yang hidup di kota (perantauan), maupun di kampung (bona pasogit). Semua cerita berkaitan dengan ibu (inong), meskipun ti­dak selalu menjadi tema atau konflik utama cerita.

Membaca kumpulan cerpen ini, kita seperti melihat kehidu­pan Batak kekinian. Bahasa Ba­tak yang digunakan Mida juga bo­leh disebut bahasa Batak mo­dern masa kini, meskipun disana sini juga muncul kosakata Batak klasik.

Sebagai contoh petikan dari cerpen “Naeng Marpesta”: “Jong­jong si Ruth laos mardalan tu bilutna. Ditutup pintu ni ka­mar­na i dipahundul di podoman­na. Naeng ro iluna, mambege pang­hataion ni bapa dohot omak­na nangkin. Tung sadia go­dang pe hepeng tung so sae do mo­lo songon pingkiran ni omak­na i naeng maspesta. Siat mami­ding, saeng mamolak. Angka na so porlu pe dirarati.” (hal. 26).

Cerpen “Naeng Marpesta” ini bercerita tentang Ruth yang mau menikah dan berpikir menghe­mat biaya. Justru ibunya terus me­nambah usul yang menambah biaya, seperti seragam untuk te­man-temannya Punguan Ina. Perilaku berpesta yang sering me­ngada-ada, bahkan sampai ber­hutang karena ingin pamer. Ke­kinian banget

Contoh lain adalah cerpen “Reuni”. Jenni bersenang-se­nang reuni dengan teman-teman SMA-nya. Seperti kebiasaan orang Batak jaman now,kalau kumpul-kumpul pasti nyanyi-nyanyi. Ketika mereka menya­nyi­kan lagu “Uju di Ngolungkon Ma Nian”. Tiba-tiba Jenni ingat ibunya yang sudah dua minggu tidak bertemu. Ibunya dia titip­kan ke rumah itonya karena ke­sibukan kerja. Jenni merasa ber­salah dan sedih. Habis reuni itu ia ke rumah itonya. Ibunya sudah tidur. Dia tak tahu, sang inong meninggal dalam tidurnya.

Midah pintar dan sangat realis menggambarkan persoalan dan dinamika kehidupan Batak masa kini. Dari persoalan larangan ka­win karena hubungan marga, sam­pai ke soal makanan khas Batak seperti dalam cerita “Ar­sik”. Soal ulos, seperti dalam ce­rita. Murni baru berpikir soal jenis-jenis dan makna ulos ketika putrinya mau menikah dalam “Ulos Sibahen na Las”.

Ada pelajaran kehidupan, ada kehangatan, tapi juga ada kritik dan persoalan-persoalan yang perlu direnungkan.

*  *  *

Meskipun termasuk dalam kri­teria sastra pop, novel Hita na Mardongan maupun kumpulan cerpen Inong  sama-sama meng­andung nilai-nilai bahasa dan bu­daya Batak. Torsatorsa na mar­im­pola. Karena itu, bagus dibaca generasi tua maupun anak muda, orang kota maupun yang tinggal di bona pasogit (kampung halaman).

Kedua buku ini juga layak ja­di koleksi perpustakaan seko­lah-sekolah di daerah yang masih menggunakan bahasa Batak To­ba. Pemerintah daerah yang ber­bahasa Batak Toba mestinya mem­beli buku ini. Kita harus men­jadi “ibu” yang menghidupi anak budaya kita sendiri.

Penulis; Seorang Pengarang, Dosen, Pemerhati Budaya.

()

Baca Juga

Rekomendasi