Oleh: Rhinto Sustono
KIM Hok alias Kim Ham baru saja kembali ke Kelenteng Tham Kong Ya, setelah ia menyelesaikan urusannya. Sejak kecil ia tinggal di bangunan bernuansa merah dan dominasi kuning emas yang terakhir dipugar pada 2007 silam.
Suasana sepi menyelimuti sekitar kelenteng yang sudah berusia ratusan tahun itu, di Dusun Emplasmen A, Bulucina, Kecamatan Hamparanperak, Deliserdang. “Kami tidak tahu pasti sejak kapan kelenteng ini dibangun. Tapi yang pasti sudah lebih seabad sejak tahun 1800-an, dari zaman Belanda, leluhur kami sudah datang ke sini,” imbuh pria setengah baya itu.
Menurutnya, penduduk pertama yang mendiami desa itu merupakan keturunan Tionghoa yang datang dari Tiongkok. Sehingga nama kawasan itu disebut dengan Bulucina.
Ada dua versi terkait penamaan itu. Bisa berdasar pada kedatangan leluhur dari Tiongkok yang mengembangkan tanaman bambu – yang dalam bahasa Melayu disebut dengan buluh – di sana. Versi lain, menurut Kim Hok, leluhurnya datang dan menjadi buruh di perkebunan Belanda. Kesulitan melafalkan kata ‘buruh’ bagi etnis Tionghoa, menyebabkan yang terucap menjadi ’bulu’.
Persis di seberang jalan kecil di depan kelenteng yang gerbangnya berhias sepasang naga dan sepasang ikan itu, terdapat bangunan yang catnya sudah pucat. Kentongan tua tergantung di sisi pintu belakang gedung. Dulunya, suara kentongan itu paling ditunggu ribuan pasang telingan buruh tembakau yang bekerja di Kebun Bulucina tersebut.
Tak hanya sebagai penanda jam wolon (istirahat). Kentongan kayu yang tingginya lebih 1 meter itu juga kerap dimanfaatkan sebagai penanda waktu pembagian gaji (gajian).
Memutar ke arah barat, fasad gedung itu masih menyisakan kejayaan masa lalu. Di bagian atasnya terdapat tulisan, “1920-Gudang Pemeraman Tembakau PT Nusantara II Kebun Bulu Cina”. Di gedung berukuran 9.300 meter persegi inilah, proses akhir pengemasan tembakau Deli yang terkenal hingga Eropa itu dikerjakan.
Bangunan bergaya Eropa itu juga terlihat sepi. Bahkan hingga memasuki pintu samping belakang pun, hanya ada dua perempuan yang tengah bercengkrama di atas dipan. Begitu memasuki bangunan utama, suasana lengang beradu dengan aroma khas tembakau.
Seorang kerani, Agus terlihat duduk menyendiri di meja kerjanya. Ia meyambut ramah penulis yang datang menyapanya. “Tak ada aktivitas, Mas. Semua proses sudah diselesaikan sejak Juli lalu,” katanya.
Tahun ini, katanya, karyawan yang bekerja di gudang itu tidak lebih dari tiga bulan. Dengan semakin menyempitnya ladang tembakau, hasil tanaman tembakau yang diolah pun sedikit. “Karyawan yang bekerja juga sudah tidak banyak lagi,” imbuh Agus.
Kebanyakan karyawan yang bekerja di gudang itu adalah ibu-ibu. Mereka sudah turun-temurun menata daun tembakau agar tersusun rapi pada tumpukan. Ada yang menyortir dan memilah daun sesuai jenisnya. Beberapa orang menimbang, yang lainnya menyusun dan membongkar tumpukan daun tembakau. Ada juga karyawan laki-laki yang mengepres di mesin pres.
Menurut Agus, di gudang itu ada 25 jenis daun tembakau yang harus dipilah dan disesuaikan menurut morfologinya. Ketelitian menyatukan daun-daun sejenis menjadi keharusan. Sebab daun tembakau yang ada memiliki kemiripan warna, tekstur, ukuran lebar dan panjang, serta besar-kecil kerusakan daunnya.
“Semuanya dilakukan dengan tangan, secara manual dan memakai peralatan sederhana. Dari dulu ya peralatan dari kayu ini yang digunakan,” tambah Agus sambil menunjukkan kayu panjang menyerupai penggaris.
Zaman Keemasan
Ratusan tahun silam, tembakau Deli menjadi komoditas primadona Sumatera Utara yang aromanya tersohor hingga ke Bremen, Jerman. Termasuk ke sebagian benua Eropa Barat lainnya. Hingga pertengahan 2005, PTPN2 masih merasakan sisa zaman keemasan komoditas tersebut.
Jika dilakukan lelang tembakau di Bremen, tak selembar pun tembakau ekspor PTPN2 itu yang tersisa. Semua terjual habis dengan harga fantastis. Makanya tak mengherankan, dulunya sekali musim produksi, gudang itu mampu memenuhi target 1.000 kg.
Pascareformasi, lahan tanaman tembakau kian menyusut. “Kini hanya tersisa 5 ladang saja, dengan luas kira-kira hanya 4 hektar,” papar Agus. Menyempitnya ladang tembakau itu berpengaruh pada hasil produksi. Padahal, dulunya PTPN2 sempat memiliki ladang tembakau mencapai 304 hektar.
Dengan luas ladang yang dimiliki, dulu PTPN2 mampu mengeskpor tembakau kualitas nomor 1 sebanyak 1.650 bal. Tapi kini hasil produksinya hanya tingga 186 bal. Itu pun hanya untuk pasar dalam negeri.
Menyempitnya ladang tembakau itu tidak terlepas dari aksi penggarapan liar. Perlakuan untuk ladang tembakau memang berbeda dengan lahan untuk tanaman tebu maupun kelapa sawit. Usai dipanen tembakaunya, lahannya harus diistirahatkan agar kondisi ladang kembali pulih dan siap ditanami. Saat itulah, banyak masyakakat beranggapan lahan tersebut tidak difungsikan lagi, sehingga mereka menggarap secara liar.
Lemahnya pengamanan dan penyelamatan aset negara yang dikelola PTPN2 bukan hal baru. Perusahaan sepertinya tidak berdaya dengan aksi penggarapan liar, atau terkesan membiarkan.
Tembakau Deli yang tersohor di seantero dunia dan menjadi pembungkus cerutu kelas wahid itu, kini memasuki senja kala. Siapa pun tak ada yang bisa menjamin, kelak komoditas unggul itu akan sirna digerus zaman.











