Oleh: J Anto
SEBANYAK 21 penyanyi dan 136 penari Medan berkolaborasi dalam Konser Gebyar Kasih Semesta 2019. Lewat lirik lagu, tari, dan drama musikal, mereka mengajak penonton agar makin mencintai alam semesta dan mengasihi sesama tanpa melihat perbedaan, suku, etnis, agama, budaya, dan warna kulit.
Panggung gelap, hanya kerlap-kerlip bintang dari layar LED yang menerangi ruangan berkapasitas 2.000 orang itu. Lalu sinar lampu panggung menyorot ke arah sembilan puluh penari. Mereka duduk dengan kedua lutut ditekuk, membentuk lingkaran berlapis-lapis. Tangan mereka terentang saling bergandengan. Saat sorot lampu berubah hijau kekuningan, tangan-tangan penari itu lalu terbuka ke samping. Gerakannya bak kelopak bunga bermekaran.
Mereka lalu berdiri dan berlarian ke empat sudut panggung, membentuk empat lingkaran baru. Dari lingkaran di tengah, tiba-tiba seorang penari pria terangkat. Gerakannya seperti tunas bibit tanaman menyembul dari dasar bumi.
Dalam terang sorot lampu, penari itu tersenyum semringah, memerlihatkan deretan gigi putihnya. Ia mengenakan kostum kuning-kehijauan, berpadu dengan celan putih-merah. Lima lingkaran itu lalu saling bergerak, membentuk berbagai formasi tari memenuhi panggung. Kadang tangan mereka ke atas diiringi hentakkan kaki ke depan secara serentak. Kali lain, sepasang tangan mereka membuat putaran seperti tengah menggulung sesuatu.
Sambil menari, mereka juga menembang: /Pemuda s’mesta, pemuda s’mesta/S’lalu bahagia penuh suka cita/Pemuda s’mesta selalu berlimpah berkah/Pemuda s’mesta slalu tertawa ceria/Hahaha/Engkau pengukir sejarah zaman/Engkau harapan dunia manusia/Negara masyarakat membutuhkanmu/Kaulah harapan insan semesta/Hidup bersama di bumi indah/Bersama menikmati surya rembulan/Menghirup satu udara/Bersama kita emban misi mulia/Wahai pemuda semesta/Mari kita wujudkan cita-cita yang agung/Mari dukung terciptanya alam s’jati, bijak, indah dan bahagia/Wujudkan misi dunia satu keluarga….
Inilah tembang Pemuda Semesta, yang sekaligus mengiringi Tari Pemuda Semesta ciptaan Master Wang Ci Guang. Sebuah tari dan tembang yang mengajak anak muda untuk merawat dan mengembangkan alam semesta.
Usai menari dan menembang, dalam posisi duduk dengan lutut ditekuk, para penari begerak membentuk 2 formasi segi empat berlapis. Sembari duduk tangan mereka menyilang menepuk dada, paha, lantai panggung. Gerakan mereka sangat cepat sambil terus menembang. Tepuk tangan penonton tiba-tiba membuncah. Mereka mengenali tari penutup yang dibawakan, tari asal Aceh yang sangat masyhur, Tari Saman.
Tepuk tangan bertambah meriah saat para penari menutup dengan formasi seperti bunga matahari.
“Itu simbol bahwa sebagai pemuda, kita harus menjadi sinar semangat, harapan, kasih, dan perdamaian,” ujar salah satu penari, Jenny. Kolaborai kedua tari yang dibawakan Tim Awan Putih dan Semerbak Bunga, menjadi pembuka konser kedua yang diadakan The International Nature Loving Association (INLA) Sumut. Konser berlangsung di Sky Convention Hall, Komplek Cemara Asri, Deli Serdang, Sabtu (24/8).
Tahun lalu, konser menampilkan dua bintang tamu dari luar Medan, yakni maestro suling asal Bali yang melejit namanya sejak merilis album Rhytm of Paradise pada 2009, Gus Tedja dan duta wisata dari Kementrian Pariwisata yang menyanyikan lagu Pesona Indonesia dalam versi Mandarin (Jakarta), Liu Chia Ling.
“Tahun ini kita hanya menampilkan seniman muda Medan, yang berminat tampil banyak,” ujar kedua art director pementasan, Toly Kho dan Rina Lu. INLA Sumut selama satu dekade dikenal gigih mempromosikan penggabungan unsur tari didukung musik dan kostum.
Musik dalam tari-tari INLA sebagai pengiring gerak sekaligus penyampai alur cerita melalui nyanyian. Sedangkan kostum mengandung makna simbolis tertentu, yang disesuaikan dengan karakter tokoh atau penari. Pesan yang disampaikan dalam syair lagu sarat ajaran kasih terhadap sesama, tanpa membedakan suku, etnis, ras, warna kulit, agama, status sosial, kebudayaan, atau gender.
“Juga nilai untuk menghargai dan mengasihi semesta, termasuk bumi dan langit serta seluruh makhluk hidup,” ujar Sekreatris INLA Sumut, Wirya Lukmana. Selain kolaborasi kedua tarian, konser itu juga menampilkan drama musikal yang berisi ziarah budaya Butet, perempuan yang lahir dan besar dalam kultur Batak Toba.
Setelah besar, Butet sadar bahwa tak mau hidup bak dalam tempurung. Saat merantau, mulailah matanya batinnya terbuka. Ia berkenalan dengan beragam kekayaan budaya milik etnis lain yang terentang dari ujung barat sampai timur nusantara.
Ziarah Budaya
Lewat ziarah budaya Butet ini, penonton diajak menikmati sejumlah tari dan lagu daerah yang syairnya kental menggelorakan rasa cinta terhadap tanah air. Lagu-lagu INLA menggelorakan cinta terhadap alam semesta dan terhadap sesama makhluk hidup.
Lagu-lagu daerah dan INLA dibawakan 21 penyanyi Medan, Butet misalnya dibawakan duet Indri dan Meidy. Sing Sing So dibawakan duet Fendy Lin dan Fenni, Kampuang Nan Jauh di Mato dibawakan William Tandean, Manuk Dadali oleh Ivan RBB, Ondel-ondel oleh Link Chow, Ampar-ampar Pisang (Jude), O Ina Ni Ke Ke (Shierly Khu), Ayo Mama (Lidya Leung), Yamko Rambe Yamko (Shierly Khu dan Fendy Lin).
“Ini konser berkelas yang dikerjakan dengan hati, sehingga terasa menggetarkan setiap jiwa yang menyaksikan,” ujar seorang penonton, Ria Telaumbanua yang tak lain Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut.
Ia tak hanya memuji penampilan para penari yang gerakannya dinamis, kompak, indah dan menyatu dengan video background (LED) yang muncul di layar, tapi juga suara para penyanyi yang menghanyutkan emosi penonton.
“Banyak pesan edukatif dari lagu-lagu konser, mengajak kita untuk mengasihi alam semesta, mengasihi diri, dan mengasihi sesama tanpa membedakan suku, etnis, ras, atau agama,” katanya. Hal lain yang membuatnya kagum, yang tampil jumlahnya seratusan orang, termasuk koreografer, penata rias, penata busana, sampai dekorasi panggung, tak menerima honor pentas sepeser pun.
Konser tersebut memang bisa dibilang sebuah panggung nurani. Bukan karena para penampil tak dibayar dan penonton tak dipungut biaya. Bukan juga suatu kebetulan jika waktu penyelenggaraannya sepekan setelah perayaan HUT ke-74 Kemerdekaan RI.
Menurut Wirya Lukmana, hal itu dimaksudkan agar lebih banyak elemen masyarakat yang menonton konser punya banyak waktu untuk melakukan kontemplasi memaknai arti kemerdekaan. Jika dibaca dengan bahasa lain, konser malam itu adalah sebuah momen penting bagi sejumlah pegiat kesenian untuk menyatakan sikap atas situasi kebangsaan yang ada.
Musik Lebih Efektif
Jude menjadikan konser itu sebagai momen untuk mempromosikan pentingnya hidup dalam dunia satu keluarga. Ia mengaku prihatin melihat realitas perbedaan di masyarakat justru dipertajam dan jadi sumber perpecahan.
“Saatnya kita kesampingkan perbedaan agar bisa membangun,” katanya saat ditemui di sebuah kafe di Perumahan Cemara Asri, Rabu (27/8). Itu sebabnya penyanyi lulusan daru Ohio State University, jurusan Food Science (2008) itu tak menyoal tentang honor.
Bagi bungsu dari 4 bersaudara yang menjadi runner up Akademi Fantasi Indosiar 2004 itu, menanamkan virus hidup damai dengan orang berbeda lebih efektif disampaikan lewat musik. “Sebagai media hiburan, musik lebih mudah diteri ma anak muda dibanding mereka disuruh mendengar pidato atau baca buku.”
Pendapat senada diungkapkan Dewi Agustina dari Lucky Dancing Group Medan. Ia merasa suasana Bhinneka Tunggal Ika hadir tidak saja saat ia di atas panggung membawakan tari pengiring lagu Oh Ina Ni Keke, tapi juga saat ia berlatih.
Maklum, para penampil umumnya pekerja seni Tionghoa, sedangkan ia berlatar suku Jawa. “Tapi saat berlatih kita terasa menyatu, enggak merasa terasing,” ujar mahasiswi fakultas sastra Inggris universitas swasta di Medan itu. Namun yang benar-benar menyentuhnya, adalah saat tampil bersama penari dan penyanyi dalam drama musikal Butet.
“Selama ini kita lebih sering membawakan tari K-Pop, penonton generasi mileneal juga akrab dengan K-Pop, jadi ini juga bagian ziarah budaya bagi saya dan penonton milenial,” katanya.
Salah seorang penari yang terlibat dalam tarian kolaborasi, Jenny, menggarisbawahi perubahan mewujudkan dunia satu keluarga harus dimulai dari keluarga di rumah. Belajar tari Kasih Semesta INLA sejak 2005 hingga sekarang, ia akui tak sekadar belajar tarian. Ia juga mendapat pendidikan nilai karena setiap tari INLA memiliki narasi yang mengekspresikan isi syair lagu yang berpesan cinta terhadap sesama, cinta terhadap alam semesta, dan kepada seisi penghuni alam.
“Menari dan menyanyi tarian Kasih Semesta INLA juga harus muncul dari penghayatan hati dan jiwa yang tulus, hingga ekspresi wajah dan gerakan kita bisa menggetarkan penonton,” ujar Jenny. Bersama rombongan penari lain, ia pernah diundang ke Beijing pada2009, membawakan kolaborasi kedua tarian itu.
Salah satu wujud ekspresi dari tari dan tembang yang dibawakan dari hati dan jiwa yang tulus, menurutnya adalah senyum tulus nan semringah. “Senyum itu bahasa yang melampaui berbagai bahasa verbal yang ada di dunia. Lewat senyum, kita sudah dianggap bagian dari orang yang berbeda.”
Dalam bahasa Marwin Tan, konser tersebut memiliki arti penting untuk membangkitkan dan menularkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Barangkali konser itu memang kontekstual dengan psikologi kebangsaan kita yang masih tercemar residu politik identitas pascapemilu.










