Stok BBM Kosong di Sejumlah SPBU di Medan. (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Medan, Selasa (14/7). Kosongnya stok BBM membuat antrean kendaraan mengular di SPBU yang masih memiliki persediaan, bahkan memicu kemacetan di beberapa ruas jalan.
Salah seorang warga, Reni Sembiring (39), warga Kecamatan Medan Kota ini mengaku terpaksa membeli Pertalite eceran setelah sepeda motornya kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan.
"Saya tadi sampai mendorong motor hampir satu kilometer ke arah Simpang Jalan Menteng. Di sana pun sudah banyak yang antre beli bensin eceran," ujarnya.
Reni mengatakan, ia harus membayar Rp20 ribu untuk satu liter Pertalite yang dijual menggunakan botol air mineral.
"Di botolnya memang ukuran 1,5 liter, tapi isinya hanya sekitar satu liter. Mau bagaimana lagi, terpaksa dibeli karena tidak mungkin mendorong motor sampai rumah," katanya.
Ia berharap pemerintah dan Pertamina segera memberikan penjelasan terkait kondisi pasokan BBM agar masyarakat tidak terus dilanda ketidakpastian.
"Pemerintah dan Pertamina harus menjelaskan apakah memang stok BBM kosong atau ada kendala distribusi. Jangan sampai masyarakat yang menjadi korban karena aktivitas sehari-hari jadi terganggu," ucapnya.
Picu Volatilitas Harga Pangan
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Benjamin Gunawan, menilai fenomena antrean BBM yang kini meluas hingga pembelian Pertalite dan Pertamax merupakan kondisi yang tidak biasa.
"Sebelum Juli, antrean panjang umumnya hanya terjadi pada pembelian solar bersubsidi. Namun sekarang antrean juga terjadi untuk Pertalite bahkan Pertamax. Ini menunjukkan adanya tekanan terhadap ketersediaan BBM yang dirasakan langsung masyarakat," katanya.
Berdasarkan hasil pemantauannya, ketika stok Pertalite di SPBU habis, masyarakat beralih membeli Pertamax. Kondisi itu membuat stok Pertamax di sejumlah SPBU ikut cepat menipis.
Benjamin mengingatkan, antrean BBM yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada mobilitas masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu distribusi barang dan memicu kenaikan harga pangan.
"Selama ini saya sudah mengingatkan bahwa antrean panjang BBM, khususnya solar bersubsidi, dapat mengganggu jalur logistik. Kendaraan pengangkut barang yang terlambat tiba di pasar induk dapat mengurangi pasokan saat proses lelang komoditas, sehingga harga pangan berpotensi naik," jelasnya.
Menurutnya, kini dampak ekonomi menjadi lebih luas karena antrean tidak lagi terbatas pada solar bersubsidi.
"Kelangkaan Pertalite membuat masyarakat mengurangi mobilitas. Di sisi lain, banyak yang akhirnya membeli Pertamax dengan harga lebih mahal karena tidak memiliki pilihan lain. Kondisi ini menambah beban pengeluaran rumah tangga dan memberi tekanan terhadap daya beli masyarakat," ujarnya.
Benjamin berharap pemerintah segera memulihkan kondisi pasokan BBM agar aktivitas ekonomi tidak semakin terganggu.
"Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, pemerintah perlu memastikan distribusi BBM berjalan normal. Persoalan kelangkaan dan antrean BBM memiliki keterkaitan dengan kondisi fiskal, pergerakan nilai tukar rupiah, serta perkembangan geopolitik global," pungkasnya. (WITA)











