Kesultanan Negeri Langkat Dipimpin DYMM Ariefanda Abdul Djalil Rahmad Shah. Al Hajj (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Tanjungpura - Kesultanan Negeri Langkat kini dipimpin DYMM Ariefanda Abdul Djalil Rahmad Shah. Al Hajj, sebagai Sultan Langkat yang baru. Pemasyuran Sultan Langkat ke-15, DYMM Ariefanda Abdul Djalil Rahmad Shah Al Hajj dilaksanakan Sabtu, 19 September 2026 di Balai Pustaka T. Amir Hamzah Mesjid Azizi Tanjungpura.
DYMM Ariefanda meneruskan kepemimpinan dan takhta Kesultanan Langkat menggantikan Sultan Langkat ke-14 Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah Al-Hajj (bin Tengku Maimun) yang mangkat pada 12 Mei 2026 di Medan.
DYMM Ariefanda Abdul Djalil Rahmad Shah. Al Hajj bersama permaisuri tiba di lokasi acara, disambut payung kebesaran dan atraksi silat Sembah Duli/Tarek diiringi musik nobat. Seluruh undangan berdiri sebagai sikap hormat kepada sultan yang baru.
Setelah duduk di singgasana, acara pemasyuran Gelar Diraja dilaksanakan oleh Majelis Adat Kesultanan diawali atraksi Tari Junjung Duli oleh lima penari pria, dilanjutkan prosesi Jemput Semangat oleh lima Wakil Juriat, penganugerahan Kebesaran Adat Diraja Negeri Langkat ditandai penyerahan tujuh sertifikat, plakat dan pin oleh DYMM Ariefanda Abdul Djalil Rahmad Shah. Al Hajj sertai surat pembuka pemberi gelar adat dibacakan oleh Orang Kaya Zulfani Anhar. Setelah selesai dilanjutkan pembacaan dari para tetua adat dan undangan dipimpin Tuan Syeh Haji Jaharuddin Batubara, MA.
Sultan Langkat ke-15 DYMM Ariefanda Abdul Djalil Rahmad Shah. Al Hajj dalam titahnya mengatakan, kita adalah penerus adat Melayu di Langkat yang diikat tali persaudaraan oleh baik sangka yang ikhlas, oleh amanah datuk moyang, oleh keyakinan bahwa marwah negeri bukanlah milik seorang melainkan amanah bersama.
"Sebab itu, beta berpesan adat jangan hanya dipakai ketika isdiadat, adat hendaklah hidup dalam perbuatan, adat jangan hanya disebut dalam bicara, dan adab hendaklah nyata dalam laku," pesannya.
Sultan Langkat yang baru juga mengingatkan orang Melayu tidak memisahkan adat daripada agama. Adat tumbuh dari syara, tumbuh dari kitabullah. Adat sebenar adat bersandar pada kitabullah dan sunatullah. Adat yang diadatkan tumbuh dari mufakat. Adat nan beradab bergerak mengikuti zaman selama tidak menyimpang dari pokok yang benar.
Ditegaskan Sultan Langkat ke-15, adat istiadat dan adab bisa menjadi pusat kebiasaan yang diwariskan turun temurun. Adat yang boleh disesuaikan dengan zaman biarlah disesuaikan yang diperbaiki biarlah diperbaiki. "Namun adat yang sebenar adat yang bertaut pada kitabullah, sunnah dan nilai adab jangan ditanjak alih sesuka hati karena di sanalah akar marwah Melayu berpegang," tegasnya.
Sultan Langkat ke-15, DYMM Ariefanda Abdul Djalil Rahmad Shah. Al Hajj selanjutnya mengingatkan bahwa dalam tradisi Melayu pemimpin didahulukan bukan dimuliakan tanpa batas tetapi untuk menunjukkan jalan. Pemimpin hendaklah dekat dengan orang yang dipimpinnya, ditinggikan kedudukannya tapi jangan meninggi hati, didahulukan langkahnya tapi jangan meninggalkan kaum di belakangnya.
Sultan Langkat ke-15 menegaskan, siapa pun yang memegang amanat hedaklah ingat gelar dapat diwariskan tetapi mawah mesti dipelihara, kedudukan dapat diberikan tetapi kepercayaan mesti diperoleh. "Ada empat tiang pemimpin Melayu. Pemimpin hendaklah banyak tahu, banyak arif, banyak bijak dan cerdik." urainya.
Ia menggarisbawahi, bahwa yang menjadikan seseorang menjadi pemimpin besar bukan semata-mata tinggi tempat duduknya melainkan tinggi budi pekertinya.
Prosesi acara pemasyuran Sultan Langkat ke-15, DYMM Ariefanda Abdul Djalil Rahmad Shah. Al Hajj diisi dengan pembacaan ayat suci Al Quran, menyanyikan lagu Indonesia Raya, diakhiri santap diraja, salat Zuhur serta ditutup ziarah kubur Sultan Langkat ke-14, Tengku Azwar Aziz, sebagai penghormatan leluhur Kesultanan.
Acara pemasyuran Sultan Langkat ke-15 turut dihadiri unsur muspika, tokoh-tokoh Melayu di Sumatera serta undangan lain.
(HEN/RZD)