Dosen UMSU Latih Dasawisma Duku Olah Sampah Organik Rumah Tangga Menjadi Kompos (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Medan – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) melaksanakan pelatihan teknis pembuatan kompos berbasis rumah tangga bagi Kelompok Dasawisma Duku di halaman Kantor Lurah Tanjung Mulia Hilir, pada Rabu, 12 Agustus 2026, pukul 09.00–12.00 WIB.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah organik menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi lingkungan. Pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah organik yang sebelumnya dilaksanakan kepada masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, tim PKM mendorong masyarakat agar tidak hanya memahami pentingnya pemilahan sampah, tetapi juga mampu mengolah sampah organik rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Kegiatan pengabdian ini mengangkat tema “Optimalisasi Pengelolaan Sampah Organik melalui Pendampingan Pembuatan Pupuk Kompos Berbasis Rumah Tangga pada Kelompok Dasawisma Duku Kelurahan Tanjung MuliaHilir”.
Tim pelaksana terdiri atas Dr. Mutia Arda, S.E., M.Si. (NIDN 0116069102), Dewi Andriany, S.E., M.M. (NIDN 0123086901), dan Susi Handayani, S.E., M.M. (NIDN 0120126504). Dalam pelatihan teknis tersebut, Mutia Arda memimpin demonstrasi pembuatan kompos, dengan dukungan pendampingan dari Wanda Meyshela Putri dan Melisya Anjellya Sipahutar.
Praktik Langsung Mengolah Sampah Organik
Pelatihan diawali dengan pengenalan bahan baku dan peralatan sederhana yang dapat digunakan untuk membuat kompos di lingkungan rumah tangga. Peserta memperoleh penjelasan mengenai jenis sampah organik yang dapat dimanfaatkan, seperti sisa sayuran, kulit buah, daun kering, dan bahan organik lainnya.
Selain mengenali bahan baku, peserta diperkenalkan dengan peralatan pendukung pembuatan kompos, antara lain cangkul, ember, dan penutup kompos. Penggunaan peralatan sederhana ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat menerapkan proses pengomposan tanpa harus bergantung pada fasilitas pengolahan yang kompleks.
Selanjutnya, Mutia Arda memimpin demonstrasi teknis pembuatan kompos. Peserta diperlihatkan tahapan pengolahan sampah organik, mulai dari pencacahan bahan menjadi ukuran yang lebih kecil, penimbunan dan pencampuran bahan organik, pemberian inokulan mikroba untuk membantu proses dekomposisi, hingga pengaturan kelembapan bahan kompos.
Dalam demonstrasi tersebut, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya menjaga kondisi bahan selama proses pengomposan. Kelembapan dan kondisi bahan perlu dipantau secara berkala agar proses penguraian dapat berlangsung dengan baik.
Setelah demonstrasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan kompos secara mandiri dalam kelompok-kelompok kecil. Peserta diarahkan untuk mempraktikkan tahapan pengolahan sampah organik, mulai dari menyiapkan dan mencacah bahan hingga mencampurkan bahan serta mengatur kelembapan kompos.
Wanda Meyshela Putri dan Melisya Anjellya Sipahutar turut memberikan pendampingan langsung kepada peserta dan membantu mencatat proses pembuatan kompos. Pendampingan ini menjadi bagian penting dalam memastikan peserta memahami setiap tahapan teknis yang diperagakan selama pelatihan.
Dorong Kebiasaan Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan
Pelatihan tidak hanya menekankan keterampilan membuat kompos, tetapi juga pentingnya menjaga keberlanjutan praktik pengelolaan sampah setelah kegiatan selesai. Peserta diberikan pemahaman bahwa proses pengomposan membutuhkan waktu, pemantauan kelembapan, serta pemeriksaan kondisi bahan secara berkala hingga kompos siap digunakan.
Melalui pendekatan praktik langsung, masyarakat diharapkan dapat menerapkan keterampilan yang diperoleh di rumah masing-masing dengan memanfaatkan sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.
Pengolahan sampah organik menjadi kompos memiliki potensi untuk mengurangi jumlah sampah rumah tangga yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Selain itu, kompos yang telah matang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman dalam pot, tanaman pekarangan, dan tanaman hortikultura.
Bagi Kelompok Dasawisma Duku, kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Melalui kerja sama antar anggota dan pendampingan berkelanjutan, praktik pengomposan berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan rutin yang mendukung kebersihan lingkungan sekaligus pemanfaatan sumber daya secara lebih optimal.
Tim PKM UMSU berharap pelatihan teknis ini dapat memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan sampah organik dari sumbernya, yaitu rumah tangga.
(RZD)