Oleh: dr. Astrawinata G. Membersihkan telinga sekarang sudah menjadi rutinitas banyak orang. Setiap kali selesai mandi, atau setiap terasa gatal, maka dengan sigap kita mengambil kapas lidi (cotton bud) untuk membersihkan liang telinga. Liang telinga yang sarat akan sel syaraf pun sangat “nikmat” dibersihkan, tak jarang seseorang sampai meneteskan air liur saat membersihkannya, dan menimbulkan perasaan ketagihan.
Lalu banyak pula pasien yang menderita sakit pada liang telinga, setelah diperiksa dijumpai ada infeksi pada liang telinganya, tidak jarang pula dijumpai kotoran telinga yang menumpuk sampai sebesar biji kacang tanah. Padahal bila ditanya riwayatnya, setiap hari pasien ini membersihkan telinga dengan cotton bud. Lalu bila dibersihkan, mengapa kasus ini masih terjadi?
Pertama sekali kita perlu memahami anatomi dan organ-organ yang terlibat dalam pembentukan kotoran telinga. Liang telinga adalah sebuah terowongan berbentuk S dengan kedalaman lebih kurang 2,5 cm. Sepertiga bagian luarnya adalah tulang rawan dan dua pertiga bagian dalamnya adalah tulang keras. Bagian tulang rawan mengandung kelenjar ekrin dan apokrin. Zat yang dikeluarkan oleh kedua kelenjar ini yang menghasilkan kotoran telinga (bahasa medis: cerumen, Indonesia: serumen).
Serumen terbentuk melalui gabungan hasil kelenjar apokrin yang kental, dan kelenjar ekrin yang encer. Serumen berfungsi menciptakan suasana asam pada liang telinga sehingga tetap aman dari pertumbuhan bakteri. Serumen juga memerangkap benda asing dan serangga sehingga tidak masuk lebih dalam dan merusak organ pendengaran.
Secara genetis produksi serumen juga berbeda. Ada orang yang kotoran telinganya bertekstur lengket, berwarna kuning kecoklatan. Ada pula yang teksturnya kering dan rapuh. Orang Asia cenderung memiliki serumen yang lengket tersebut.
Serumen yang diproduksi akan terkumpul di sepertiga luar liang telinga, di daerah tulang rawan. Liang telinga bersebelahan dengan otot pengunyahan, sehingga apabila kita mengunyah liang telinga juga akan ikut bergerak. Serumen yang terkena udara dan mengering akan menjadi lebih ringan, dan berkat gerakan mengunyah maka serumen akan bisa keluar dengan sendirinya.
Dengan demikian maka kita mengetahui bahwa liang telinga memiliki mekanisme pembersihan sendiri. Kelenjar apokrin dan ekrin mengeluarkan serumen dengan fungsinya yang telah dijelaskan, kemudian serumen akan kering karena terpapar udara, dan dengan gerakan rahang akan keluar dengan sendirinya.
Masalah kemudian timbul dengan kebiasaan membersihkan telinga. Alat yang paling sering digunakan adalah cotton bud (kapas lidi). Cotton bud memiliki ujung yang besar dan membulat. Saat dimasukkan ke liang telinga, cotton bud akan mendorong serumen semakin kedalam liang telinga. Walaupun ada sebagian serumen yang lengket ke cotton bud, namun sebagian lainnya akan terdorong masuk ke dalam. Semakin sering mengorek dengan cotton bud, semakin banyak yang terdorong dan semakin padat kotoran di dalam telinga.
Saat kotoran semakin padat, keluhan pun akan dirasakan pasien. Gejala yang paling sering dikeluhkan adalah pendengaran yang berkurang di salah satu telinga, rasa sakit, berdenging dan nyeri kepala. Tidak jarang selain kotoran yang menyumbat (serumen prop), dijumpai juga infeksi liang telinga.
Berukurangnya pendengaran disebabkan gelombang suara yang harusnya langsung mengenai gendang telinga, kini terhalang oleh tumpukan serumen. Akibatnya timbul gangguan pendengaran konduktif.
Infeksi disebabkan iritasi dinding liang telinga oleh serumen, atau oleh benda yang dipakai untuk mengorek karena rasa tidak nyaman di telinga. Benda yang dipakai mengorek biasanya berupa lidi, tutup pulpen, jarum, kunci, atau benda lainnya. Gejala yang terasa adalah nyeri liang telinga, terutama bila daun telinga ditarik.
Pada kasus sumbatan serumen tanpa disertai infeksi, maka tujuan pengobatan adalah mengeluarkan sumbatan tersebut. Sebelum dikeluarkan, serumen yang sudah keras dan memadat harus dilunakkan dulu untuk mencegah iritasi dan nyeri saat prosedur pengeluaran. Bahan yang biasanya dipakai untuk melunakkan antara lain cairan hidrogen peroksida 3 % atau gliserin. Setelah kotoran melunak baru serumen dikeluarkan.
Sementara pada kasus sumbatan serumen ditambah infeksi liang telinga, maka tahapan pengobatan pertama adalah menyembuhkan infeksi liang telinga terlebih dahulu. Sebab dinding liang telinga yang terinfeksi akan membengkak sehingga liang telinga menjadi menyempit. Selain itu rasa nyeri yang diakibatkan infeksi liang telinga akan menyulitkan proses pengeluaran.
Setelah diberikan obat makan dan obat tetes telinga selama beberapa hari, pasien harus kembali untuk memeriksakan kondisi liang telinga nya. Bila infeksi sudah sembuh, barulah serumen bisa dikeluarkan.
Mengeluarkan serumen yang sudah lunak dapat dilakukan menggunakan alat khusus seperti pengait, penjepit, atau penyedot (vakum). Dokter akan memilih alat yang sesuai dengan ukuran serta konsistensi serumen.
Setelah sumbatan serumen dikeluarkan, pasien bisa langsung merasakan perbaikan gejala. Pendengaran akan seketika menjadi lebih jelas, sementara rasa sakit dan perasaan berdengung biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk hilang.
Obat-obatan pasca prosedur biasanya tidak diperlukan. Kecuali ada iritasi atau infeksi yang masih tersisa, maka obat akan dilanjutkan sampai tuntas.
Dengan penjelasan diatas, jelaslah bahwa kita tidak perlu sering-sering membersihkan liang telinga, karena liang telinga mempunyai mekanisme pembersihan sendiri. Apabila terasa gatal, hindari memasukkan cotton bud karena pemakaian jangka panjang akan menyebabkan sumbatan serumen. Hindari juga menggunakan benda berujung tajam karena bisa menyebabkan infeksi bila menusuk dinding liang telinga, dan yang paling berbahaya bisa merobek gendang telinga.
Yang paling aman adalah dengan menggunakan ujung jari yang bersih dilapisi dengan kain yang lembut. Ujung jari hanya akan masuk sampai maksimal sedalam 7-10 mm sehingga tidak akan mendorong serumen masuk. Namun pastikan kuku jari tidak panjang dan tidak tajam supaya tidak terjadi iritasi.
Hindari juga kebiasaan memasukkan air ke liang telinga saat mandi. Cukup mandi seperti biasa lalu keringkan liang telinga luar menggunakan handuk. Kecuali liang telinga sudah kemasukan air dan susah keluar, maka kita boleh memasukkan 1-2 tetes air ke dalam untuk membantu mengeluarkan air yang tertahan.
Liang telinga merupakan bagian tubuh yang dianggap sepele, namun banyak kasus yang dijumpai menyangkut higienitas dan cara merawat liang telinga. Dengan memahami anatomi dan mekanisme kerja yang ada dalam tubuh, diharapkan kita bisa lebih menjaga kesehatan tubuh kita.











