YARSAGUMBA atau Yarchagumba di Nepal adalah spesies tanaman langka banyak digunakan dalam klinis kedokteran dengan nama latin Cordyceps sinesis.
Yarsagumba yang juga dikenal sebagai obat kuat dari Himalaya merupakan 'tambang emas' bagi penduduk setempat karena harganya yang fantastis. Pegunungan Himalaya, dengan puncak Everest, dikenal sebagai destinasi impian para pendaki. Namun, bagi penduduk di lerengnya, pegunungan Himalaya menjadi 'tambang emas'.
'Emas' di sini mengacu pada yarsagumba, sejenis jamur ulat. Yarsagumba, dalam bahasa Tibet memiliki arti 'rumput musim panas, ulat musim dingin'.
Tanaman unik ini terbentuk saat larva ngengat yang hidup dalam tanah, terinfeksi spora jamur parasit Ophiocordyceps sinensis.
Saat terinfeksi dan mati, tubuh ulat itu akan mengeras sementara di bagian kepalanya, tumbuh jamur berwarna coklat berbentuk pipih. Secara fisik, bentuk yarsagumba cukup unik, berupa batang cokelat kekuningan seukuran korek api yang mencuat dari dalam tanah.
Lokasi tumbuhnya juga sangat sulit dijangkau. Yarsagumba hanya ditemukan di wilayah bertanah lembab di ketinggian 3000-5000 meter di atas permukaan laut. Jamur unik ini umumnya tumbuh sekitar Mei dan Juni, di awal musim panas.
Yarsagumba hanya bisa ditemukan di ketinggian 3000-5000 meter di lereng pegunungan Himalaya. Maka, tidak heran jika musim panas tiba, desa-desa di lereng pegunungan Himalaya mendadak kosong.
Setiap tahun pada Mei dan Juni, ribuan penduduk dari daerah-daerah terpencil mempertaruhkan hidup ke pegunungan tinggi untuk mengumpulkan Cordyceps atau yarsagumba atau yarchagumba.
Dolpa – sebuah distrik terpencil di Nepal barat dengan lembah-lembah yang curam tinggi dan iklim kering merupakan salah satu daerah terkemuka untuk mengumpulkan Cordyceps atau Yarsagumba atau Yarchagumba.
Sumber pemasukan terbesar
Penduduk setempat percaya, yarsagumba adalah 'obat ajaib', yang berkhasiat menyembuhkan penyakit, dari asma hingga kanker. Namun, salah satu khasiat yarsagumba yang paling dikenal adalah sebagai obat kuat. Maka, tidak heran bila kemudian yarsagumba dikenal dengan nama 'obat kuat dari Himalaya'.
"Yarsagumba harganya lebih mahal dari emas," kata Karma Lama, penjual yarsagumba. Satu kilogram yarsagumba dibanderol dengan harga US$100.000 atau setara Rp1,4 miliar di pasar internasional, seperti Tiongkok, Korea, Thailand, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat (AS).
Harga yang fantastis itulah yang membuat warga desa di lereng Himalaya rela mempertaruhkan nyawa demi mencari yarsagumba.
Sita Gurung, salah seorang pencari yarsagumba mengatakan cuaca dingin dan longsor salju adalah ancaman terbesar.
"Kadang kami kehujanan dan kedinginan. Selain itu, longsor salju bisa datang mendadak," ujarnya. "Jika longsornya besar, kami bisa terhempas ke jurang."
Satu buah yarsagumba dijual seharga US$3,50 - 4,50 atau setara Rp50.000-65.000. Namun, saat sudah diekspor dan sampai ke pasar internasional harganya melonjak berlipat. Satu gramnya, dibanderol dengan harga US$100 (Rp1,4 juta).
Pemanasan global dan panen berlebihan membuat ketersediaan yarsagumba menurun drastis. Di sisi lain, warga yang terus-menerus mencabuti yarsagumba dari lereng Himalaya dan pengaruh pemanasan global, membuat jamur unik ini semakin langka.
"Biasanya sehari kita bisa menemukan 100 yarsagumba, namun sekarang paling banyak hanya 20 buah. Bahkan, terkadang kami tidak menemukan yarsagumba sama sekali." Hal ini dikeluhkan warga setempat. Bisa dibilang, yarsagumba merupakan sumber pemasukan terbesar bagi warga setempat. (wkp/bbc/es)











