Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa organ jantung memiliki empat ruang, dua serambi (atrium) di atas dan dua bilik (ventrikel) di bawah, masing-masing dibatasi oleh sebuah sekat yang berfungsi memisahkan ruang kanan dan kiri.
Pada jantung normal, darah dari seluruh tubuh yang didominasi oleh kandungan CO2 akan diterima oleh jantung (atrium dan ventrikel) kanan kemudian dialirkan menuju paru-paru untuk dibersihkan, lebih lanjut darah bersih yang banyak mengandung O2 akan diteruskan ke jantung (atrium dan ventrikel) kiri untuk dipompa ke seluruh tubuh.
Jantung bocor merupakan istilah awam yang digunakan untuk menggambarkan sebuah penyakit jantung bawaan. Kebocoran organ jantung disebabkan oleh adanya lubang pada sekat yang membatasi dinding di ruang kiri dan kanan jantung. Keberadaan lubang pada sekat tersebut menyebabkan adanya hubungan antara ruang kiri dan kanan sehingga seolah terdapat kebocoran di dalam organ jantung.
Kebocoran pada sekat tersebut mengakibatkan terjadinya percampuran antara darah kotor di ruang kanan dan darah bersih di ruang kiri. Kondisi ini mengakibatkan jantung tidak berfungsi dengan normal, sehingga kemampuan untuk memompa darah dan penyaluran oksigen serta nutrisi ke seluruh tubuh terganggu.
Penyakit jantung bocor terjadi akibat adanya gangguan dalam proses pembentukan organ jantung sejak di dalam kandungan yang dimulai di tiga minggu awal kehamilan.
Berdasarkan penelitian para ahli, diduga faktor risiko yang berkontribusi menyebabkan kebocoran jantung, yakni adanya mutasi genetik, penyakit yang diderita ibu saat kehamilan seperti diabetes, infeksi pada saat kehamilan seperti campak jerman (Rubella), konsumsi obat-obatan tidak sesuai indikasi dokter, meminum alkohol, merokok selama kehamilan dan terpajan zat toksin berbahaya. Semakin tinggi intensitas terpapar dengan faktor risiko maka semakin besar pula kemungkinan adanya gangguan proses pembentukan jantung.
Onset munculnya gejala kebocoran jantung bergantung pada seberapa luas kerusakan yang terjadi. Pada kasus berat, gejala muncul sesaat setelah bayi dilahirkan, namun pada kebocoran kecil gejala terkadang tidak terdeteksi dan akan muncul di usia balita, remaja bahkan dewasa. Pengukuran kadar oksigen dalam tubuh bayi diawal kelahiran berperan penting dalam deteksi dini kebocoran jantung, jika ditemukan kelainan maka harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Gejala kebocoran jantung yang sering muncul pada bayi maupun balita adalah anak kelihatan sesak dan kesulitan dalam bernafas (tampak tersengal-sengal), sering mengeluhkan nyeri dada, tampak mudah kelelahan dan berkeringat secara berlebihan pada saat beraktivitas, sering terlihat jongkok sesaat setelah beraktivitas, beberapa bagian tubuh tampak kebiruan (sianosis) terutama bibir, kuku, jari-jari tangan dan kaki, gejala ini semakin memberat saat menangis ataupun beraktivitas.
Selanjutnya kelainan bentuk ujung jari dan kuku yang dikenal dengan jari tabuh (clubbing fingers), pembengkakan pada kaki, tangan, perut dan area sekitar mata, kesulitan dan kurang nafsu makan, berat badan sulit naik, pertumbuhan cenderung terlambat dibandingkan anak seusianya, pada bayi, saat menyusui sering terputus-putus, sering terkena demam, batuk dan pilek. Jika gejala diatas ditemukan maka segera bawa anak ke dokter untuk berkonsultasi.
Penegakan diagnosa kebocoran jantung dilakukan melalui serangkaian pemeriksaan oleh dokter yaitu menanyakan keluhan pasien terkait dengan gejala kebocoran jantung, kemudian dilakukan pemeriksaan fisik tubuh terutama organ jantung. Pada pasien dengan kecurigaan kebocoran jantung, dokter akan menilai suara jantung yang didengarkan melalui stetoskop dan akan ditemui suara jantung tambahan yang disebut murmur.
Pemeriksaan EKG (elektrokardiogram) untuk menilai fungsi jantung melalui aliran listrik organ jantung, pemeriksaan ekokardiografi (USG Jantung) untuk menilai fungsi dan struktur organ jantung melalui bantuan gelombang suara ultrasonik, foto rontgen dada untuk menilai jantung dan paru.
Selanjutnya dapat dilakukan kateterisasi, sebuah tindakan invasif yang tidak hanya berfungsi untuk diagnosis, namun sebagai terapi juga. Dalam kaitannya untuk diagnosis, tes ini bertujuan mencari lokasi kebocoran jantung secara langsung, menilai aliran darah dan tekanan di masing-masing ruang jantung.
Sedangkan dalam kaitannya sebagai terapi, tindakan kateterisasi digunakan sebagai modalitas untuk menutup kebocoran pada jantung. Tindakan dilakukan oleh dokter spesialis jantung anak dengan memasukkan selang kateter dan cairan pewarna khusus melalui pembuluh darah dan menelusurinya hingga mencapai organ jantung dengan bantuan sinar-X.
Penanganan kasus kebocoran jantung sangat bergantung pada kondisi pasien, luas dan lokasi kebocoran. Pada kasus dengan luas kebocoran yang sangat kecil, lubang dapat menutup dengan sendirinya, meskipun demikian tetap harus dilakukan monitoring ketat secara berkala untuk memantau kondisi pasien, ada juga beberapa hanya memerlukan penanganan melalui obat-obatan.
Jika kondisi kebocoran kompleks dan telah menimbulkan gejala klinis yang serius maka harus dilakukan prosedur tindakan operasi jantung meliputi prosedur kateter, operasi jantung terbuka (open heart sugery) dan dalam kasus yang paling parah harus dilakukan transplantasi jantung.
Prosedur kateterisasi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dapat digunakan sebagai modalitas terapi tanpa membuka rongga dada dan jantung melalui tindakan pembedahan. Tindakan dilakukan dengan memasukkan selang kateter melalui pembuluh darah sampai mencapai lokasi kebocoran di organ jantung, melalui kateter tersebut akan diletakkan alat seperti payung kemudian dikembangkan yang berfungsi menutup kebocoran.
Tindakan operasi jantung terbuka (open heart sugery) menjadi pilihan apabila prosedur kateterisasi tidak dapat dilakukan seperti pada kasus kebocoran luas, letak kebocoran lebih dari satu tempat, lokasi tidak dapat dicapai oleh selang kateter dan beragam indikasi lainnya. Tindakan pembedahan jantung harus dilakukan oleh dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular dengan membuka rongga dada dan menutup langsung area kebocoran jantung melalui serangkaian prosedur pembedahan.
Namun jika pasien datang dalam kondisi sudah terjadi komplikasi berat seperti gagal jantung dimana fungsinya tidak berjalan secara optimal, maka opsi transplantasi jantung dapat dipertimbangkan untuk menyelamatkan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Beberapa hal yang harus dipantau ketat pada anak dengan kebocoran jantung yaitu menjaga kebersihan tubuh untuk mencegah terjadinya infeksi yang mengarah ke organ jantung, di mana penderita kebocoran jantung sangat rentan mengalaminya, asupan makanan yang bergizi, pemantauan ketat terhadap aktivitas fisik untuk menjaga kondisi kesehatan anak, hindari kegiatan-kegiatan berat.
Pada wanita muda yang memiliki riwayat penyakit jantung bocor dan berencana untuk hamil segera konsultasikan kepada dokter jantung mengenai kondisi tersebut. Keberhasilan penanganan kasus kebocoran jantung bergantung pada kontinuitas pengobatan yang dijalani pasien, diperlukan monitoring ketat dan pemeriksaan medis yang teratur untuk memantau keadaan pasien sepanjang masa pertumbuhannya hingga usia dewasa. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan pasien dan memastikan kualitas hidupnya meningkat.
(Penulis merupakan dokter lulusan Universitas Sumatera Utara dan sekarang sedang menjalani Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) di RSUD Muara Teweh, Kalimantan Tengah)











