SETELAH sekelompok ilmuwan melakukan penelitian selama hampir 11 tahun, akhirnya meyakini bahwa potongan-potongan fosil tak lengkap yang mereka temukan di Gurilin Tsav, Gurun Gobi, Mongolia, merupakan sisa-sisa dari seekor pterosaurus raksasa, terbesar yang pernah ditemukan. Demikian dikabarkan National Geographic belum lama ini.
Hasil serangkaian penelitian yang telah diterbitkan dalam Journal of Vertebrate Paleontology tersebut menyebutkan bahwa sayap pterosaurus itu membentang hingga 11 meter, menyamai bentang sayap pesawat kecil dan lebih lebar dari pterosaurus raksasa sebelumnya, yang ditemukan di Amerika dan Eropa.
Usia fosil tersebut diperkirakan mencapai 70 juta tahun.
Pterosaurus adalah kelompok reptil terbang yang hidup pada masa dinosaurus. Ia dikenal sebagai vertebrata pertama yang berevolusi hingga memiliki kekuatan untuk terbang, serta dianggap sebagai hewan terbang terbesar yang pernah hidup di Bumi.
Fosil di Gurun Gobi tersebut pertama ditemukan pada 2006 oleh Buuvei Mainbayar dari Mongolian Academy of Sciences. Ia mengabarkan penemuannya kepada Takanobu Tsuihiji, dosen ilmu bumi dan lingkungan planet Universitas Tokyo, Jepang.
"Saya segera mengenali bahwa itu kemungkinan seekor pterosaurus dan kagum melihat ukurannya yang besar," kata Tsuihiji. "Kami segera kembali ke situs itu dan menemukan sisa spesimen lainnya."
Fosil-fosil yang ditemukan sebagian sudah pecah berantakan sehingga mereka butuh waktu bertahun-tahun untuk menyusunnya. Hingga akhirnya mereka menemukan tukang punggung dengan bentuk vertebra berkarakteristik pterosaurus azhdarchid.
Azhdarchid adalah famili pterosaurus yang hidup pada masa Cretaceous (periode sepanjang 79 juta tahun yang berawal pada 145 juta tahun lalu).
Tempat fosil tersebut ditemukan adalah sebuah formasi geologi di Gurun Gobi yang disebut Nemegt Formation. Di kawasan ini telah ditemukan beberapa dinosaurus yang berusia hingga 70 juta tahun lalu, namun baru kali ini ditemukan fosil pterosaurus. Demikian dipaparkan Science Alert. Penemuan ini menjadi bukti bahwa pada masa hidupnya predator angkasa ini hidup menyebar ke berbagai daerah di Bumi, setidaknya hingga akhir periode Cretaceous.
Meski diyakini sebagai pterosaurus, tim peneliti belum mengidentifikasikannya sebagai spesies baru. Pasalnya, kerangka yang ditemukan sangat tidak lengkap.
Kesimpulan
Akan tetapi, dari fosil-fosil yang ditemukan, mereka berkesimpulan bahwa hewan purba ini bisa berjalan dengan empat kaki (dua kaki lainnya adalah tulang sayap yang ditekuk) dan kemungkinan menjadikan dinosaurus kecil atau anak dinosaurus sebagai mangsa.
Karena fosil tak lengkap, para peneliti kesulitan untuk menentukan ukuran tepat pterosaurus ini. Namun mereka yakin, hewan tersebut sedikit lebih besar dibandingkan dua pterosaurus raksasa lain yang pernah ditemukan, yaitu Quetzalcoatlus (ditemukan di Texas pada 1970-an) and Hatzegopteryx (ditemukan di Rumania pada 1990-an).
Kedua hewan purba itu memiliki panjang sayap antara 9,7 m hingga 11 m, dengan tinggi mencapai 5,5 meter.
Pterosaurus Gurun Gobi diperkirakan lebih besar dari dua "saudaranya" itu karena, mengutip Daily Mail, tulang leher yang ditemukan memiliki lebar hampir 20 cm. Azhdarchid besar yang ditemukan di Yordania, Aramabourgiania, lebar tulang lehernya hanya 5 cm.
Akan tetapi Mark Witton, seorang ahli pterosaurus, dikutip International Business Times, masih meragukan ukuran sebenarnya pterosaurus baru itu.
"Yang tak kami miliki dari pterosaurus ini adalah asosiasi tulang leher dengan badan, yang bisa mengonfirmasi apakah mereka hanya memiliki leher yang lebih besar atau memang hewan yang lebih besar secara keseluruhan," jelas Witton.
Walau berukuran raksasa, azhdarchid Gobi ini bukanlah apex predator (pemangsa teratas dalam rantai makanan) karena pada era yang sama di kawasan tersebut hidup Tarbosaurus, pemangsa yang memiliki berat badan sedikitnya 5,5 ton. Namun Witton berpendapat azhdarchid itu bukanlah makanan favorit Tarbosaurus karena ia bisa lompat dan terbang untuk menghindarinya. (ba/ng/ar)











