USU Dorong Perempuan Suka Maju Olah Jagung Lokal Jadi Produk Bernilai Tambah (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Sibolangit - Universitas Sumatera Utara (USU) menggandeng kelompok perempuan Desa Suka Maju, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, untuk mengubah jagung lokal dari sekadar komoditas mentah menjadi produk pangan bernilai ekonomi tinggi.
Hal itu diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema 'Penguatan Resiliensi Ekonomi Perempuan melalui Transformasi Jagung Menjadi Produk Tepung Pangan Pascabencana' yang digelar Jumat (14/8) di Desa Suka Maju.
Program pendampingan ini tidak hanya memperkenalkan teknologi pengolahan jagung, tetapi juga menghubungkan seluruh rantai produksi, mulai dari pengolahan, pengembangan produk, pengemasan, strategi pemasaran, hingga persiapan sertifikasi halal. Tujuannya untuk membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.
Dalam kegiatan tersebut, Tim Pengabdian USU menyerahkan alat pengering dan penggiling jagung kepada kelompok mitra. Ketua tim, Prof. Dr. Elisabet Siahaan, S.E., M.Ec., didampingi anggota Dr. Nauas Domu Marihot Romauli, STP., M.Eng., Yuni Lestari Br. Sitepu, Fauziah Kumalasari, dan Taufik Akbar Parluhutan. Turut terlibat dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Nelvi Nurul Huda, S.E., M.Si., beserta mahasiswa lintas bidang dari Teknologi Pangan Fakultas Pertanian dan Program Studi Magister Manajemen Properti dan Penilaian (MMPP) Sekolah Pascasarjana USU. Keterlibatan lintas disiplin ini memperkuat pendekatan pengabdian yang menggabungkan teknologi pangan dengan manajemen usaha dan pemberdayaan masyarakat.
Setelah penyerahan alat, Prof. Elisabet memaparkan materi berjudul 'Membawa Tepung Jagung Naik Kelas: Strategi Produk, Kemasan, Pemasaran, dan Sertifikasi Halal'. Ia menekankan bahwa tepung jagung tidak boleh dipasarkan sekadar sebagai hasil gilingan jagung, melainkan harus memiliki fungsi jelas di mata konsumen.
"Tepung jagung Suka Maju dapat dikembangkan menjadi bahan pangan lokal untuk berbagai produk seperti Cipera, Cimpa Jagung, Gulame Jagung, puding jagung, keripik jagung, ice cream jagung, kue talam, bolu jagung, dan bolu kukus jagung," ujarnya.
Dengan pendekatan ini, konsumen tidak hanya membeli kemasan tepung, tetapi juga mengetahui produk apa yang bisa dihasilkan. Prof. Elisabet juga menekankan pentingnya product proof, yakni membuktikan penggunaan tepung melalui hasil olahan seperti brownies, muffin, atau cookies agar produk memiliki bukti aplikasi nyata.
Pengembangan produk juga diarahkan pada kemasan modern, seperti standing pouch kraft berziplock yang praktis dan memberikan kesan alami. Identitas produk yang diusung adalah Tepung Jagung Suka Maju – Tepung Jagung Lokal – 100% Jagung Lokal'. Kemasan dapat disesuaikan dengan segmen pasar: 250 gram untuk konsumen yang ingin mencoba, 500 gram untuk keluarga, dan 1 kilogram untuk UMKM atau warung.
Pemasaran diarahkan mulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga, tetangga, warung, PKK, hingga UMKM makanan, serta memanfaatkan media sederhana seperti WhatsApp. Peserta juga dibekali tahapan persiapan sertifikasi halal, mulai dari penyiapan dokumen, pendaftaran, verifikasi, hingga penerbitan sertifikat.
Dr. Nauas Domu Marihot Romauli memaparkan teknologi pengolahan jagung menjadi tepung. Ia menekankan bahwa kualitas tepung ditentukan sejak pemilihan bahan baku. Jagung harus tua atau matang fisiologis, biji penuh dan keras, bersih, seragam, serta bebas jamur dan bau apek. Proses pengeringan dilakukan pada suhu 50–70 derajat Celsius dengan target kadar air 10–12 persen sebelum digiling.
"Pengeringan tidak semata-mata ditentukan lama waktu, tetapi harus memperhatikan kondisi dan kadar air bahan agar mutu dan keamanan pangan terjaga," jelasnya.
Setelah pemaparan, tim melakukan demonstrasi penggunaan alat pengering dan penggiling jagung, dilanjutkan praktik langsung oleh ibu-ibu PKK dan kelompok usaha. Peserta diajarkan cara memasukkan jagung secara bertahap, melakukan penggilingan ulang, mengayak hasil, serta mengendalikan panas selama proses produksi.
Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi perempuan Desa Suka Maju serta menjadikan jagung lokal sebagai produk unggulan yang siap bersaing di pasar yang lebih luas.
(JW/RZD)