Mempertahankan NKRI dengan Persatuan

Oleh: Ir. Jafar Siddik, S.Pd

Dalam sila Persatuan Indonesia, manusia Indonesia mampu menempatkan persatuan dan kesatuan serta kepentingan dan keselamatan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi ataupun golongan. Menempatkan kepen­tingan negara dan bangsa di atas kepen­tingan pribadi mengartikan bahwa manusia Indonesia sanggup dan rela berkorban untuk kepen­tingan negara dan bangsa, apabila diperlukan.

Coba kita perhatikan sapu lidi. Sapu lidi adalah kumpulan banyak lidi yang diikat menjadi satu. Sapu lidi dapat digunakan untuk menya­pu pekarangan hingga bersih. Bayangkan jika kita menyapu hanya menggunakan satu bilah lidi. Dapatkah kita membersihkan pekarangan tersebut? Tentu saja tidak.

Lidi tersebut akan patah dan tidak berguna. Lidi-lidi akan berguna jika ia digabung dan diikat menjadi satu. Begitu pula dengan kita, dalam kehidupan sehari-hari kita membutuhkan bantuan dari orang lain. Oleh karena itu, bantulah orang lain. Kita akan kuat dan bisa mencapai tujuan jika bersatu. Kita akan lemah jika bekerja sendiri-sendiri. Seperti kata pepatah “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”.

Sikap rela berkorban untuk kepenti­ngan negara dan bangsa tentunya dilandasi oleh rasa cinta kepada tanah air dan bangsanya, maka dikembangkanlah rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia. Persatuan dikembangkan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika dengan memajukan pergau­lan demi kesatuan dan persatuan bangsa. Sebagai contoh, kita sebaiknya bergaul dengan setiap kalangan tanpa meman­dang suku, agama, budaya, bahasa atau golongan tertentu sehingga terciptalah persatuan.

Kita mancemaskan bahwa persatuan Indonesia terusik, bahkan terkoyak di sana-sini. Cita-cita persatuan Indonesia adalah idaman lama. Tidak ada kemer­dekaan tanpa persatuan. Persatuan adalah gabungan (ikatan, kumpulan) beberapa bagian yang sudah bersatu. Nilai-nilai persatuan harus kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengamalkan nilai persatuan berarti turut mengamal­kan sila ke-3 dalam Pancasila.

Agar keutuhan NKRI dapat terjaga maka kita harus melak­sanakan empat nilai-nilai persatuan dalam kehidupan sehari-hari yang dapatdimulai dari keluarga hingga ke masyarakat.

 Pertamanilai-nilai persatuan dalam keluarga.Dalam kehidupan sehari-hari anggota keluarga memiliki tugas masing-masing. Kita dan anggota keluarga yang lain harus saling membantu mengerjakan tugas dirumah yang sudah ditentukan.

Dalam sebuah keluarga, sikap saling membantu dan mengasihi akan melahir­kan kerukunan dan kebahagiaan keluarga. Seandainya sikap saling membantu dan mengasihi tidak tercipta dalam sebuah keluarga, maka keadaan keluarga itu tidak akan harmonis misalnya seperti setiap anggota keluarga tidak peduli satu sama lain. Selalu menyayangi dan membantu anggota keluarga adalah contoh nilai-niai persatuan yang harus kita laksanakan sehari-hari bersama keluarga di rumah.

Kita harus terlebih dahulu menyayangi keluarga dengan tulus, ini membuat kita dengan senang hati membantu dan beker­jasama dengan anggota keluarga yang lain. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga persatuan dengan keluarga di rumah,di antaranya: memban­tu ayah dan ibu merpikan rumah sesuai kemampuan kita, bersikap tenang ketika ada anggota yang sedang beriba­dah, meng­­hargai dan menghormati apabila ada perbedaan pendapat dalam keluarga, mera­wat barang-barang pinjaman dari kakak atau adik, berbicara dengan tutur kata yang baik dan sopan.

Sikap senang membantu pun akan ikut menumbuhkan rasa sayang, saling menghormati dan peduli pada keluarga dirumah. Dari itu, mari kita membiasakan diri untuk bersikap seperti itu. Ini berarti kita telah melaksanakan nilai-nilai persatuan dalam keluarga.

Kedua nilai-nilai persatuan di seko­lah.Pada kegiatan upacara bendera di sekolah dapat meng­ajarkan kita banyak pengalaman-pengalaman yang menarik yakni tolong- manolong, menjaga kekom­pakan, saling menghargai, dan mencintai tanah air yang pada akhirnya dapat menimbulkan nilai-nilai persatuan.

Persatuan diperlukan untuk mencapai sebuah tujuan, misalnya kita harus saling membantu saat melakukan piket kelas. Setiap orang dalam regu piket mempunyai tugas yang berbeda, tujuannya adalah agar kelas menjadi bersih.

Kita bertemu dengan banyak teman dan guru di sekolah. Mereka mungkin saja berasal dari suku, agama, bahasa, dan budaya yang berbeda serta mempu­nyai sifat yang berbeda dengan kita. Wa­lau demikian, kita harus tetap meng­hargai dan peduli pada kebera­gaman tersebut agar dapat mengamalkan nilai-nilai persatuan di sekolah.

Peduli berarti mengetahui apa yang dibutuhkan orang lain dan bersedia membantu dengan tulus. Peduli berarti mengerti bahwa teman akan kesusahan apabila kita tidak membantunya. Peduli berarti bersedia bekerja sama dengan teman-teman ketika mengerjakan piket kelas. Peduli akan menum­buhkan rasa persatuan. Tentunya, masih banyak kegiatan di sekolah yang membutuhkan kerja sama dan kekompakan.

Ketiga nilai-nilai persatuan antar umat beragama. Agama dan kepercayaan yang dianut bangsa Indonesia sangat beragam. Keane­karagaman ini dapat memengaruhi kehidupan masyarakat. Agar masyarakat dapat hidup harmonis, maka setiap anggota masyarakat hendaknya bersikap baik terhadap sesama. Sikap yang baik adalah sikap saling menghormati dan menghargai antar sesama. Sikap hidup saling menghormati disebut dengan toleransi. Toleransi bera­gama berarti menghargai agama dan keyakinan orang lain yang berbeda dengan kita.

Bersikap toleran berarti membi­arkan mereka menjalankan iba­dah­nya dengan tenang. Kerukunan antar umat beragama harus dibina dengan baik. Kebebasan men­ja­lankan ibadah sudah diatur dalam undang-undang. Umat beragama dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang tanpa diganggu oleh orang lain. Masya­rakat Indonesia memang beragam.

Walaupun banyak perbedaan, kita harus tetap berusaha untuk menjadi satu kesatuan agar tidak terpecah belah. Sikap toleransi hendaknya dapat diterapkan da­lam kehidupan sehari-hari untuk mem­perkuat persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Membina keru­kunan dan mengutamakan persatuan dengan umat beragama lain berarti ikut menga­malkan sila ke Tuhanan Yang Maha Esa.

Keempat nilai-nilai persatuan di masyarakat.Kita perlu bergaul dengan beragam orang di sekitar kita. Terkadang, kita akan membutuhkan bantuan mereka dan mereka pun akan membutuhkan bantuan kita. Keberagaman yang ada tidak perlu jadi penghalang untuk membantu orang lain. Kita harus berpegang pada semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Ini berarti kita tetap harus bersatu walupun berbeda-beda agama, suku, budaya dan golongan.

Ada kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan bersama demi kepentingan bersama pula, misalnya saat kerja bakti di lingkungan tempat tinggal. Lingkungan tidak akan cepat bersih jika hanya satu orang yang bekerja. Kita harus saling membantu dan bekerja sama.Setiap orang mempunyai tugas yang berbeda dan melaksanakan tugasnya dengan penuh rasa tanggung jawab. Kita tentunya dapat ikut membantu sesuai kemampuan kita. Jika ada tetangga yang sudah lanjut usia dan tidak kuat menyapu saat kerja bakti, kita harus bisa membantunya. Inilah nilai-nilai persatuan yang harus diamalkan di masyarakat, kita harus peduli pada orang-orang di sekitar kita.

Semua nilai-nilai persatuan tersebut sudah tertuang dalam Pancasila, dimana Pancasila memiliki banyak fungsi dalam kehidupan kita. Pancasila adalah dasar nega­ra dan budaya bangsa. Selain itu, nilai-nilai yang terkandung dalam Pan­casila mampu menjadi pedoman kita dalam berperilaku. Pancasila dijadikan budaya bangsa karena ia berasal dari akar budaya asli Indonesia.

 Kebaikan dalam keberagaman budaya Indonesia dirangkum menjadi lima sila yang dapat mencerminkan perilakurakyat Indonesia. Budaya yang beraneka ragam tidak menjadi penghalang untuk mencapai persatuan dan kesatuan. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila wajib dihayati dan diamalkan seluruh warga negara Indonesia. Nilai-nilai tersebut harus dijalankan dalam hubungan dengan Tuhan dan dengan sesama manusia, baik dilingkungan keluarga, masyarakat sekitar, maupun negara.

Zaman penjajahan merupakan zaman yang buruk bagi bangsa Indonesia. Pen­deritaan, kemiskinan, kesengsaraan dan kepedihan melanda rakyat. Tidak ada kesempatan bagi anak-anak golongan bawah untuk mengenyam bangku se­ko­lah. Pada waktu itu, hanya anak-anak go­longan bangsawan yang dapat melan­jutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Keadaan rakyat yang serba menderita itu lantas menumbuhkan rasa senasib se­penanggungan di antara rakyat se­hingga terciptalah rasa persatuan dan kesatuan. Dengan rasa persatuan dan kesatuan yang kuat tersebut pada akhir­nya Soekarno dan Moh. Hatta, atas nama bangsa Indonesia berhasil memprokla­masikan kemerdekaan Indonesia.

 Kita harus selalu siap sedia memer­tahankan negara kita dari segala gang­guan dan ancamanyang bisa datang dari dalam maupun luar negeri ini. Sebagai warga negara yang baik, sudah sepa­tutnya kita melaksanakan keempat nilai-nilai persatuan diatas dalam kehidupan sehari-hari, kapanpun dan dimanapun kita beradademi memertahankan ke­utuhan NKRI.

Dengan menjalankan keempat nilai-nilai persatuan tersebut berarti kita sudah menjalankan Pancasila yang pada akhir­nya dapat mempertahankan Negara Ke­satuan Republik Indonesia ini. Dirgahayu Republik Indonesia ke-73. ***

Penulis adalah Guru Tamansiswa Binjai

()

Baca Juga

Rekomendasi